| Alhasil, karyanya makin berbobot,
menarik dan dikagumi. Bukan virtuositas tehnik, emosi yang
meledak-ledak, keeksentrikan yang dibuat-buat, penemuan medium
baru atau cerita yang melampaui khayalan kita, yang membuat
karya Edi Sunaryo menarik. Namun kepribadian yang sederhana,
tidak neko-neko, “alon-alon asal kelakon”, sikap
yang konservatif, kematangan berpikir, perasaan yang ‘subtil’,
dan pengendapan dari pengalaman, yang membuat ia maju.
Tanpa terasa sudah berjalan tiga tahun.sejak
Edi Sunaryo meninggalkan ‘citra primitif’ nya
yang abstrak dan tunduk kepada kaedah-kaedah baku dan kaku
menuju era baru dengan konsep ‘penuh bisa kosong dan
kosong bisa penuh’, dimana ia mulai menggunakan bentuk
nyata yang lembut. Dalam kurun waktu tiga tahun kemajuannya
cukup signifikan. Kalau dulu saya anggap Edi Sunaryo seorang
“slow starter” dengan mesin diesel, ternyata saya
keliru. Bila sekarang, kita tidak sering meninjau studionya
untuk melihat karyanya, kita akan kaget melihat perkembangannya.
Warna cerah yang dulu dihindari sekarang menjadi akrab dengannya.
Dalam kombinasi dengan warna gelap dan redup yang biasa ia
pakai, karyanya memberi nuansa lain dengan sebelumnya. Benda
yang dipakai sebagai simbol tidak terbatas pada benda mati
lagi. Ia telah berani menghadirkan mahluk hidup dari binatang
sampai manusia, yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Manusia
yang dilukisnya bahkan bukan sembarang manusia, Ia adalah
Yesus Kristus, Allah Putera, seperti terlihat pada karya yang
ada dalam koleksi saya ‘The Descent from The Cross’.
Dengan demikian subject matter nya menjadi lebih kaya. Ia
telah lepas sama sekali dari belenggu yang dulu mengikatnya.
Edi dengan bebas berkeliaran di dunia khayalannya.
Karya Edi Sunaryo sekarang juga menghadirkan
simbolisme yang penuh fantasi, seperti terlihat dalam karya
berjudul ‘My Love’. Disitu ia menggambarkan seekor
kucing dengan gaun wanita. Dimana si wanita tidak dilukis
nyata sebagai wanita namun cukup diwakili hanya dengan gaunnya.
Edi sudah lama mahir dalam seni-grafis,
dan kadang-kadang ia memasukkan teknik grafis dalam lukisan
cat minyaknya, dimana hal ini membuat karyanya bertambah menarik.
Edi juga mengembangkan karyanya dengan menggunakan kolase,
maka monotonitas dalam karya Edy Sunaryo di periode lama yang
dapat disebut periode citra primitif sudah teratasi secara
total.
Berkat kepiawaian Edi membuat blok satu warna yang meliputi
bidang luas dan keahliannya dalam komposisi, maka tidak mengherankan
bila di kemudian hari muncul karya abstrak Edi Sunaryo yang
hanya terdiri dari blok-blok warna primer. Dalam bayangan
saya karya-karya itu akan sangat menarik. Mudah mudahan prediksi
saya ini dapat terwujud. Kita tunggu kejutan-kejutan lain
yang akan ditampilkan Edi Sunaryo.
|