Musium Nasional
Jl. Medan Merdeka Barat 12
Jakarta Pusat
Acara Pembukaan akan diadakan pada
Tanggal 19 - 21, Oktober 2003
Jam 19.00 WIB.
Pembukaan Pameran dilakukan oleh:
Dr. Oei Hong Djien

   
     
 
D alam katalog pameran tunggal Edi Sunaryo di Moom gallery tahun 2000 saya menulis bahwa ia telah berhasil melakukan terobosan. Namun waktu itu ia masih berhati-hati sekali. Warna-warna yang dipakai adalah warna yang aman. Ia belum berani menggunakan warna cerah yang terlalu menarik perhatian. Hal ini diakuinya sendiri. Kita sering berdiskusi dan sewaktu saya menyinggung masalah ini ia selalu berkata : “Nanti dulu, pelan-pelan ”. Mungkin karena kematangan berpikir dan usia-lah yang membuatnya tidak gegabah. Setiap langkah maju diamatinya betul, apakah sudah tepat dan sudah waktunya untuk maju setapak lagi? Ia tidak ingin meroket tapi kemudian terjun bebas. Ia tetap berkarya secara serius, tidak terbawa hingar bingarnya pasar. Perenungannya makin mendalam, eksplorasinya jalan terus.
 
 
   
 
 

Alhasil, karyanya makin berbobot, menarik dan dikagumi. Bukan virtuositas tehnik, emosi yang meledak-ledak, keeksentrikan yang dibuat-buat, penemuan medium baru atau cerita yang melampaui khayalan kita, yang membuat karya Edi Sunaryo menarik. Namun kepribadian yang sederhana, tidak neko-neko, “alon-alon asal kelakon”, sikap yang konservatif, kematangan berpikir, perasaan yang ‘subtil’, dan pengendapan dari pengalaman, yang membuat ia maju.

Tanpa terasa sudah berjalan tiga tahun.sejak Edi Sunaryo meninggalkan ‘citra primitif’ nya yang abstrak dan tunduk kepada kaedah-kaedah baku dan kaku menuju era baru dengan konsep ‘penuh bisa kosong dan kosong bisa penuh’, dimana ia mulai menggunakan bentuk nyata yang lembut. Dalam kurun waktu tiga tahun kemajuannya cukup signifikan. Kalau dulu saya anggap Edi Sunaryo seorang “slow starter” dengan mesin diesel, ternyata saya keliru. Bila sekarang, kita tidak sering meninjau studionya untuk melihat karyanya, kita akan kaget melihat perkembangannya. Warna cerah yang dulu dihindari sekarang menjadi akrab dengannya. Dalam kombinasi dengan warna gelap dan redup yang biasa ia pakai, karyanya memberi nuansa lain dengan sebelumnya. Benda yang dipakai sebagai simbol tidak terbatas pada benda mati lagi. Ia telah berani menghadirkan mahluk hidup dari binatang sampai manusia, yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Manusia yang dilukisnya bahkan bukan sembarang manusia, Ia adalah Yesus Kristus, Allah Putera, seperti terlihat pada karya yang ada dalam koleksi saya ‘The Descent from The Cross’.
Dengan demikian subject matter nya menjadi lebih kaya. Ia telah lepas sama sekali dari belenggu yang dulu mengikatnya. Edi dengan bebas berkeliaran di dunia khayalannya.

Karya Edi Sunaryo sekarang juga menghadirkan simbolisme yang penuh fantasi, seperti terlihat dalam karya berjudul ‘My Love’. Disitu ia menggambarkan seekor kucing dengan gaun wanita. Dimana si wanita tidak dilukis nyata sebagai wanita namun cukup diwakili hanya dengan gaunnya.

Edi sudah lama mahir dalam seni-grafis, dan kadang-kadang ia memasukkan teknik grafis dalam lukisan cat minyaknya, dimana hal ini membuat karyanya bertambah menarik. Edi juga mengembangkan karyanya dengan menggunakan kolase, maka monotonitas dalam karya Edy Sunaryo di periode lama yang dapat disebut periode citra primitif sudah teratasi secara total.
Berkat kepiawaian Edi membuat blok satu warna yang meliputi bidang luas dan keahliannya dalam komposisi, maka tidak mengherankan bila di kemudian hari muncul karya abstrak Edi Sunaryo yang hanya terdiri dari blok-blok warna primer. Dalam bayangan saya karya-karya itu akan sangat menarik. Mudah mudahan prediksi saya ini dapat terwujud. Kita tunggu kejutan-kejutan lain yang akan ditampilkan Edi Sunaryo.

 



  Magelang, 29 August 2003
  Dr. Oei Hong Djien