24 Nov - 6 Des 2003
Perempuan
Ballroom Hotel Padma, Bali
Acara Pembukaan di laksanakan tanggal 24 Nov 200,3 pukul 19.00 WTA
Nov 24, 2003 at 19.00 WITA
Pembukaan Pameran dilakukan oleh
Made Wianta

   
     
 
Perempuan adalah subject matter yang paling menarik bagi seniman sepanjang segala abad untuk dianalisa, dipelajari, dirasakan, digarap dan diekpresikan sebagai karya seni. Namun hasilnya sering tidak mengena karena perempuan adalah mahluk yang kompleks dan mengandung banyak misteri. Banyak sisi yang kelihatan namun lebih banyak yang tersembunyi. Dunia memang berputar sekitar kuasa, harta dan perempuan. Dari ketiganya perempuan yang menduduki tempat sentral. Bukankah jaya atau jatuhnya penguasa bisa disebabkan perempuan? Raja Inggris, Edward ke VIII bersedia meninggalkan tahtanya demi perempuan.

Dalam pameran yang bertajuk Perempuan ini empat pelaku seni yang belum begitu dikenal namun berbakat ingin mengungkapkan beberapa sisi perempuan menurut versinya masing-masing.

 
   
 
 

Ni Nyoman Sani, satu-satunya perempuan yang ikut berpameran adalah pelukis muda dari Bali. Ia melukiskan perempuan dengan berbagai macam busana, mirip perancang busana perempuan. Namun lebih dari perancang busana biasa, Sani mengolah ekpresi muka perempuan dengan memberikan berbagai sentuhan warna dan bentuk sehingga hasilnya bukan lagi gambar-gambar yang biasa kita lihat di majalah mode wanita, tetapi sebuah lukisan yang ‘berbicara’. Ekspresi wajahnya pada umumnya sama, bahkan kadang-kadang dianggap tidak penting oleh Sani maka dihilangkan saja. Apakah ia ingin menunjukkan gayanya seperti ini? Perempuan dihadirkannya secara soliter, berdua atau berkelompok dengan nasib atau kedudukan yang sama. Deformasi badan yang memanjang dan elegan, warna-warna segar, cerah dan harmonis antara figur dan latar belakang, serta sentuhan artistiknya membuat karyanya mudah diserap oleh publik. Apa yang ingin dikemukakan oleh pelukis perempuan ini tentang perempuan?

Tjipgito Soerjanto, seorang MBA lulusan Amerika yang meninggalkan profesinya dan memilih tinggal di Ubud untuk melukis dan mematung. Sejak kecil gemar melukis namun tidak pernah mendapat pendidikan formal untuk seni-lukis. Ini adalah pameran perdananya. Ia tertarik oleh seni tradisional Bali. Gito juga pengagum Gustav Klimt, seorang pelukis Austria ternama yang pandai melukis sosok perempuan dengan ornamentasi yang kaya. Sosok perempuan dalam karya-karya Gito memiliki kemiripan satu dengan lainnya. Saya tidak tahu apakah ini model hidup atau ciptaannya sendiri. Dengan memberikan sedikit sentuhan di wajah, ia berhasil menyulap perempuan yang sama menjadi individu-individu dengan karakter yang berbeda-beda, ada yang lembut, licik, galak, sendu juga sensual. Sedangkan ornamen yang digunakan sebagai pengikat serial lukisannya kali ini adalah Patra (bunga). Perempuan-perempuan dalam lukisannya, masing-masing diberi nama: Sabrina, Natalie, Clarissa, dsb. Apakah nama-nama tersebut mengandung arti tersendiri bagi Gito? Namun ada pula lukisannya yang diberi judul Paul Gauguin, Van Gogh, Toulouse Lautrec, Amadeo Modigliani. Melalui karya-karya ini identitas seniman-seniman legendaris itu - berupa lukisannya yang terkenal - dibubuhkan di badan atau dipakai sebagai latar belakang. Apakah ini merupakan homage untuk seniman-seniman yang dikaguminya atau keisengan belaka?
Semoga Gito tidak berhenti sampai disini namun dengan tekun melanjutkan berkarya sebagai seni-rupawan. Dengan penuh harapan kami menunggu pamerannya yang akan datang.

Iswanto Soerjanto yang merupakan adik Tjipgito, adalah seorang professional photographer. Ia keluar dengan karya seni foto eksperimental. Medium yang digunakan bukan kertas foto namun lempengan seng atau aluminium. Pengerjaanya dengan proses alternatif, suatu proses yang masih sangat langka dipakai di Indonesia. Ia mengolah subjek perempuan secara lebih subtil. Nyaris tidak menampakkan bentuk fisik perempuan yang jelas, tetapi ingin mengungkapkan sisi yang tidak terlihat dari perempuan. Alhasil rasa ingin tahu si pemirsa diusik. Apa gerangan yang mau diceritakan dari perempuan tersebut? Misalnya apa maunya wajah misterius yang ada dibalik jendela gereja? Misteri perempuan memang tidak pernah terpecahkan.

Dr. Lau adalah yang paling senior dalam usia diantara keempat orang yang berpameran kali ini. Ia juga paling allround. Lau adalah seorang dokter lulusan Jerman, pelukis, pematung dan art photographer. Kali ini, ia keluar dengan karya tiga dimensional, lukis dan art photo. Fotonya kali ini menggunakan medium konvensional yaitu kertas dengan proses cetak konvensional. Dalam karya-karyanya perempuan diposisikannya dalam situasi yang kontradiktif. Seperti pada Lust and Consciense. Seorang perempuan dengan buah dadanya yang merangsang sedang memegang buku dengan tanda salib yang merupakan simbol sebuah alkitab. Sepertinya kita dihadapkan pada pilihan hawa nafsu atau moral agama. Begitu pula pada Disclosure, si perempuan ingin menutup buah dadanya dengan pakaian tebal dan sopan tetapi dilain pihak ingin memamerkan keseksiannya. Pada Beauty and The Beast, wajah si perempuan ditutupi layaknya seperti teroris, sedangkan dilain sisi terlihat buah dadanya yang lembut. Sepertinya Lau ingin melambangkan dua hal yang berlawanan namun tidak terpisahkan seperti yin-yang, baik-buruk, keras-lembut, jasmaniah-rohaniah, nafsu-moral.

Magelang, 8 November 2003
Dr. Oei Hong Djien