|
Ni Nyoman Sani,
satu-satunya perempuan yang ikut berpameran adalah pelukis
muda dari Bali. Ia melukiskan perempuan dengan berbagai macam
busana, mirip perancang busana perempuan. Namun lebih dari
perancang busana biasa, Sani mengolah ekpresi muka perempuan
dengan memberikan berbagai sentuhan warna dan bentuk sehingga
hasilnya bukan lagi gambar-gambar yang biasa kita lihat di
majalah mode wanita, tetapi sebuah lukisan yang ‘berbicara’.
Ekspresi wajahnya pada umumnya sama, bahkan kadang-kadang
dianggap tidak penting oleh Sani maka dihilangkan saja. Apakah
ia ingin menunjukkan gayanya seperti ini? Perempuan dihadirkannya
secara soliter, berdua atau berkelompok dengan nasib atau
kedudukan yang sama. Deformasi badan yang memanjang dan elegan,
warna-warna segar, cerah dan harmonis antara figur dan latar
belakang, serta sentuhan artistiknya membuat karyanya mudah
diserap oleh publik. Apa yang ingin dikemukakan oleh pelukis
perempuan ini tentang perempuan?
Tjipgito Soerjanto, seorang MBA lulusan Amerika
yang meninggalkan profesinya dan memilih tinggal di Ubud untuk
melukis dan mematung. Sejak kecil gemar melukis namun tidak
pernah mendapat pendidikan formal untuk seni-lukis. Ini adalah
pameran perdananya. Ia tertarik oleh seni tradisional Bali.
Gito juga pengagum Gustav Klimt, seorang pelukis Austria ternama
yang pandai melukis sosok perempuan dengan ornamentasi yang
kaya. Sosok perempuan dalam karya-karya Gito memiliki kemiripan
satu dengan lainnya. Saya tidak tahu apakah ini model hidup
atau ciptaannya sendiri. Dengan memberikan sedikit sentuhan
di wajah, ia berhasil menyulap perempuan yang sama menjadi
individu-individu dengan karakter yang berbeda-beda, ada yang
lembut, licik, galak, sendu juga sensual. Sedangkan ornamen
yang digunakan sebagai pengikat serial lukisannya kali ini
adalah Patra (bunga). Perempuan-perempuan dalam lukisannya,
masing-masing diberi nama: Sabrina, Natalie, Clarissa, dsb.
Apakah nama-nama tersebut mengandung arti tersendiri bagi
Gito? Namun ada pula lukisannya yang diberi judul Paul Gauguin,
Van Gogh, Toulouse Lautrec, Amadeo Modigliani. Melalui karya-karya
ini identitas seniman-seniman legendaris itu - berupa lukisannya
yang terkenal - dibubuhkan di badan atau dipakai sebagai latar
belakang. Apakah ini merupakan homage untuk seniman-seniman
yang dikaguminya atau keisengan belaka?
Semoga Gito tidak berhenti sampai disini namun dengan tekun
melanjutkan berkarya sebagai seni-rupawan. Dengan penuh harapan
kami menunggu pamerannya yang akan datang.
Iswanto Soerjanto yang merupakan adik Tjipgito,
adalah seorang professional photographer. Ia keluar dengan
karya seni foto eksperimental. Medium yang digunakan bukan
kertas foto namun lempengan seng atau aluminium. Pengerjaanya
dengan proses alternatif, suatu proses yang masih sangat langka
dipakai di Indonesia. Ia mengolah subjek perempuan secara
lebih subtil. Nyaris tidak menampakkan bentuk fisik perempuan
yang jelas, tetapi ingin mengungkapkan sisi yang tidak terlihat
dari perempuan. Alhasil rasa ingin tahu si pemirsa diusik.
Apa gerangan yang mau diceritakan dari perempuan tersebut?
Misalnya apa maunya wajah misterius yang ada dibalik jendela
gereja? Misteri perempuan memang tidak pernah terpecahkan.
Dr. Lau adalah yang paling senior dalam usia
diantara keempat orang yang berpameran kali ini. Ia juga paling
allround. Lau adalah seorang dokter lulusan Jerman, pelukis,
pematung dan art photographer. Kali ini, ia keluar dengan
karya tiga dimensional, lukis dan art photo. Fotonya kali
ini menggunakan medium konvensional yaitu kertas dengan proses
cetak konvensional. Dalam karya-karyanya perempuan diposisikannya
dalam situasi yang kontradiktif. Seperti pada Lust and Consciense.
Seorang perempuan dengan buah dadanya yang merangsang sedang
memegang buku dengan tanda salib yang merupakan simbol sebuah
alkitab. Sepertinya kita dihadapkan pada pilihan hawa nafsu
atau moral agama. Begitu pula pada Disclosure, si perempuan
ingin menutup buah dadanya dengan pakaian tebal dan sopan
tetapi dilain pihak ingin memamerkan keseksiannya. Pada Beauty
and The Beast, wajah si perempuan ditutupi layaknya seperti
teroris, sedangkan dilain sisi terlihat buah dadanya yang
lembut. Sepertinya Lau ingin melambangkan dua hal yang berlawanan
namun tidak terpisahkan seperti yin-yang, baik-buruk, keras-lembut,
jasmaniah-rohaniah, nafsu-moral.
Magelang, 8 November 2003
Dr. Oei Hong Djien
|