Legian Kaja Lt. 2 Hotel Padma, Bali Acara Pembukaan di laksanakan tanggal 26
Dec 2004 pukul 19.00 WITA
Pembukaan Pameran dilakukan oleh dr. Oei Hong Djien
Enam
seniman dengan latar belakang dan disiplin yang berbeda, bergabung
untuk berpameran di Hotel Padma Bali. Keenam seniman ini adalah
Antonius Kho, I Made Djirna, Filippos, Tjipgito Soerjanto, Hiromi
Sana dan Sumio Suzuki. Mungkin mereka tidak saling mengenal
dan tidak tahu mengenai karyanya masing-masing. Namun ada suatu
yang unik dalam pameran ini yaitu keenam seniman ini masing-masing
keluar dengan karya lukis dan karya non-lukis. Pameran dengan
konsep seperti ini sepanjang pengetahuan saya baru pertama kali
diadakan di Indonesia. Entah di luar Indonesia. Antonius Kho
keluar dengan patung kayu, Djirna berkarya dengan keramik, Tjipgito
menciptakan topeng kayu, Filippos dengan patung perunggu dan
onyx, Hiromi memamerkan kimono, sedangkan Sumio menggelar perabot
rumah.
Selama ini seni
rupa dibagi dalam seni murni (fine art) dan seni terapan (applied
art). Dalam paham seni kontemporer batasan ini semakin samar.
Seni kontemporer menghendaki publik dan lingkungan sekitarnya
ikut dilibatkan dalam berkarya sehingga applied art lebih
banyak diakomodasi ke dalamnya. Bahkan apa yang dulu dikategorikan
sebagai kerajinan bisa menjadi bagian dari seni kontemporer.
Dengan demikian paham tentang seni menjadi lebih longgar.
Proses berkreasi juga lebih bebas. Oleh karena itu pameran
ini diberi judul “Tanpa Batas”. Tiada batasan
seni murni dan seni terapan. Mereka boleh menciptakan apa
saja tanpa batas. Yang penting karya tersebut menarik perhatian
publik dan dapat dinikmati.
Antonius Kho, Indonesia keturunan Tionghoa
yang mendapat pendidikan di Yogya, Bandung dan Jerman. Lukisannya
berbentuk simplifikasi dan abstraksi figur/wajah yang digarapnya
dengan media campuran dan collage. Sedangkan patungnya berbentuk
figur yang terbuat dari kayu bercorak primitif
I Made Djirna berasal dari Bali, lulusan ISI Yogyakarta
merupakan seniman yang tidak asing lagi untuk kita semua.
Lukisan Djirna juga merupakan abstraksi wajah. Karya lainya
adalah terakota yang juga berbentuk figur atau wajah.
Filippos berasal dari Yunani. Lukisannya
bercorak simbolis atau semi abstrak. Patung-patungnya dibuat
dari perunggu dan berbentuk figur yang bergaya realis. Ia
juga berkreasi dengan medium lain yaitu batu onyx yang dikombinasikan
dengan medium lain. Karya terakhir ini bergaya non figuratif.
Tjipgito Soerjanto, Indonesia keturunan Tionghoa
yang otodidak. Lukisannya memakai warna-warna lembut dan berobjek
wajah wanita mempunyai citra pop art. Sangat cocok untuk dipakai
dalam iklan komersial. Karya topengnya terbuat dari kayu yang
diwarnai merupakan elaborasi dari wajah wanita yang ada dalam
karya lukisnya.
Hiromi Sana, wanita berasal dari Jepang.
Karya kimononya bermotif flora-fauna, pemandangan alam dan
kehidupan di laut. Garis serta warnanya lembut. Lukisannya
memakai medium sutera dan bercorak mirip dengan karya kimononya.
Sumio Suzuki berasal dari Jepang
yang membuat perabot rumah tangga dengan bermacam-macam bahan.
Gaya perabotnya kontemporer. Ia sangat bebas dalam menciptakan
model perabotnya. Ia juga memamerkan karya drawing.
Sayang sekali saya tidak bisa menyaksikan karya-karya
para seniman tersebut diatas dalam wujudnya sebelum menulis
pengantar ini sehingga pengulasan karya menjadi sangat terbatas.
Disamping itu juga beberapa seniman, belum saya kenal sama
sekali, baik orangnya maupun karyanya. Padahal suatu karya
tiga dimensi harus dilihat dari semua sisi, hanya menginterpretasikan
dari foto menemukan banyak kendala.