Agus
Andy
Bambang
Bayu
Budi
David
Dhanank
Dipo
Edi
Galam
Hanafi
Herly
I Gusti
Indie
Nasirun
Pupuk
Ronald
Samsul
Teddy
Wedhar
Zulkarnaini
Tutup
 
 
 
 
 
Galeri Nasional Indonesia
Jl. Medan Merdeka Timur 14
Jakarta 10110

Pameran dibuka untuk umum
Tanggal : 24 Oktober 2007
Pukul : 19.00 WIB

Pameran dibuka oleh:
Dr. Oei Hong Djien
   
     
 
ArtVertising:
•> Dr. Oei Hong Djien   •> Enin Supriyanto

Di awal tahun 2006 Hermanto Soerjanto mengundang sejumlah seniman muda untuk berkumpul di museum baru saya guna membicarakan sebuah pameran yang ia gagas dan bertajuk "ArtVertising". Mereka adalah seniman yang walaupun muda namun sudah punya nama. Mereka juga mempunyai macam-macam gaya.

 
 
   
 
 

Pada waktu itu ada rekan seniman yang mempertanyakan apakah seniman macam Nasirun dan Pupuk dengan gaya mereka bisa ikut dalam pameran ini. Rupanya orang tersebut tak bisa membayangkan gaya Nasirun dan Pupuk bisa diaplikasikan kedalam "pop-art" karena untuk pameran "ArtVertising" yang berhubungan dengan reklame ini gaya paling cocok memang gaya "pop-art" yang berasal dari popular art, seni yang berhubungan dengan produk-produk untuk konsumen, dedengkotnya adalah Andy Wharhol.

Dalam tahun terakhir ini telah terjadi perkembangan baru di dunia seni rupa kita terutama di bidang seni lukis. Perubahan yang paling nyolok adalah perkembangan pasar yang demikian pesat bagi seni lukis kontemporer Indonesia yang dipicu oleh balai lelang internasional Sotheby's dan Christie's. Peran kedua balai lelang internasional ini penting untuk menembus pasar regional dan internasional.

Diantara seniman yang diundang untuk ikut dalam pameran "ArtVertising" tersebut ada yang karyanya membukukan harga rekor baru berlipat-lipat sebelumnya. Bahkan ada yang melebihi karya para maestro Affandi, Hendra, Sudjojono, Lee Man Fong dan Widayat. Suatu sukses yang fantastik dan tak pernah terduga sebelumnya. Mendadak mereka menjadi selebritis yang dikejar-kejar oleh kolektor, pedagang, galeri, balai-lelang, baik dalam maupun luar negeri.

Akhirnya mereka tak bisa ikut pameran ArtVertising karena mempunyai agenda-agenda yang "lebih penting" seperti mempersiapkan pameran di luar negeri karena setelah sukses yang begitu hebat di lelang Sotheby's dan Christie's para pelaku seni internasional mendadak memalingkan perhatian mereka ke seniman-seniman ini. Galeri berebut ingin memamerkan karya mereka.

Mengapa bisa begitu? Karena zamannya berubah dan imbas boom seni rupa kontemporer Cina yang berkelanjutan sampai sekarang. Harga lukisan kontemporer Cina dalam waktu singkat meningkat sedemikian tingginya sehingga lukisan kontemporer Indonesia dan juga Asia Tenggara lainnya yang mutunya tak kalah menjadi relatif sangat murah. Maka berpalinglah para pembeli luar negeri ke lukisan-lukisan kontemporer regional lainnya.

Mengapa yang dikejar yang kontemporer? Karena perkembangan zaman dan rupanya karya kontemporer lebih berbicara dan menarik bagi kaum muda zaman kini. Zaman kini adalah zaman budaya Pop. Lihat saja bila ada pertunjukkan musik pop pengunjungnya yang mayoritas dari kawula muda mbludak tak terkendali. Tak pernah demikian dengan pagelaran musik seriosa.

Yang menjadi inceran adalah lukisan dengan gaya mirip Cina kontemporer dengan ciri-ciri gaya realis fotografik, tema figur, sering diri sendiri atau selebritis dan objek benda komersial atau benda fantasi. Kekuatan sapuan kuwas bukan menjadi andalan lagi. Ide lebih dipentingkan dari pada rasa. Maka seniman Indonesia yang menjadi inceran pada umumnya adalah yang mempunyai gaya seperti itu misalnya Masriadi, Agus Suwage, Handiwirman dan Rudi Mantofani disamping Putu Sutawijaya dan Yunizar yang masih mengandalkan garis dan sapuan kuas. Rudi Mantofani juga mempunyai gaya lain yang abstrak.

Beramai-ramailah seniman-seniman muda berganti gaya menyesuaikan dengan gaya yang sedang ngetrend dan laris manis. Mungkin juga ini atas anjuran galeri dan para pedagang seni.

Maka timbul kesangsian pada beberapa seniman tentang Nasirun dan Pupuk yang mempunyai gaya ekspresionis apakah mereka bisa berhasil mengerjakan tema "ArtVertising". Ternyata Nasirun dan Pupuk sangat berhasil dengan karya mereka. Karya Nasirun "Program Langit Biru", "Bukan Basa Basi", "Gudangnya Ide" dan "Yang Penting Rasanya Bung" termasuk karya berhasil dan mengena.

Karya Pupuk "No Bullshit" bahkan merupakan karya terbaik pelukis ini. Disini Pupuk membuat reklame negatif dimana ia memperingatkan masyarakat bahwa 92% dari kanker mulut disebabkan oleh merokok. Ini bukan omong kosong. Lukisan Pupuk lain yang berjudul "Warning" memvisualkan akibat merokok yang bisa menimbulkan kanker, serangan jantung, impotensi,gangguan kehamilan dan janin, juga menarik.

Karya instalasi S. Teddy yang berjudul "Land" menggunakan bedil AK 47 sebagai bahasa rupa. Ia berbicara tentang kerusakan bumi yang penyebab utamanya adalah perang. Yang menarik senjata-senjata AK 47 itu dibikin lengkung sebagai lingkaran dan membentuk simbol Perserikatan Bangsa-Bangsa. AK 47 adalah senjata yang paling ampuh dan paling banyak membunuh manusia, lebih banyak dari senjata lain. Namun kalau senjata tersebut sudah dibengkokkan sedemikian rupa maka tak dapat berfungsi sebagai pembunuh lagi dan terjadilah perdamaian diantara bangsa-bangsa. Dalam karya lain yang berjudul "Stars and Stripes" Teddy sangat nakal. USA ia balikan menjadi ASU.

Bayu Yulianshah dengan karya 2 panel berjudul "The East - The West" tidak hanya mereklamekan rokok namun mempertunjukkan saingan bebuyutan antara rokok kretek dan rokok putih. Kedua kekuatan yang dahsyat, digambarkan dengan 2 laras meriam berbentuk rokok yang berhadapan siap tempur, sang rokok kretek mengepulkan asap Gatot Kaca dan sang rokok putih mengepulkan asap Superman. Kita tahu bahwa rokok kretek adalah produk khas Indonesia sedangkan rokok putih adalah produk Barat. Siapa lebih perkasa Gatot Kaca atau Superman? Di Indonesia jelas Gatot Kaca.

Dipo Andi membuat karya 2 dimensional yang terdiri dari banyak panel mengenai segala yang instant yang diberi judul "Mendadak Ngepop". Ia mempromosikan segala yang instant atau menyindir? Gejala serba instant merupakan gejala masa kini, tidak hanya untuk barang konsumsi tetapi kita rasakan pula di dunia seni-rupa, ada seniman yang mendadak karyanya bergaya pop-art, ada kolektor lukisan instant yang mendadak menyukai pop-art setelah ada boom lukisan bergaya pop-art padahal sebelumnya tak mempunyai perhatian sama sekali.

Ada karya sangat menarik dari suami - isteri Miko Bawono dan Santi Ariestyowanti dari kelompok Indieguerillas yang merupakan digital print dan berjudul "Banyan Tree Lounge". Bila bicara tentang lounge pikiran kita melayang ke suatu ruang yang nyaman ber AC, ada macam-macam makanan kecil dan minuman, baik yang non alcohol maupun yang beralcohol, ada TV berwarna dengan layar datar, komputer serta berbagai koran dan majalah. Kedua suami - isteri ini menggambarkan lounge zaman dulu yaitu tempat dibawah pohon beringin dimana ada macam-macam orang berkumpul, ada penjual sate, tukang cukur, dukun sedang konsultasi dengan jin, gareng, petruk, reog dan lain-lain. Suasananya lebih bebas dan berbudaya rakyat.

Pada umumnya karya-karya yang dipamerkan cukup berhasil sampai sangat berhasil dan saya yakin dengan situasi pasar seperti sekarang pasti banyak peminatnya.

Namun kita harus waspada dan jangan euforis dengan boom pasar seni rupa kontemporer yang instant ini. Kalau dulu orang mencari nama besar tanpa memperhatikan kualitas, sekarang orang berkecenderungan mencari tema yang mirip tema Cina contemporer. Balai lelang lokal menggenjot penjualan karya-karya macam ini baik dari pelukis yang sudah ada nama maupun yang belum mempunyai record sama sekali. Tercapai harga fantastik yang tak masuk akal. Bagi seniman muda yang belum matang, ini bisa menjadi bumerang. Bagi kolektor baru yang ikut-ikutan tanpa pengetahuan yang memadai bisa menjadi korban kerugian finansial yang besar. Namun paling dirugikan adalah dunia seni-rupa Indonesia. Sebaiknya kita belajar dari pengalaman yang lalu. Bagi seniman yang sudah mapan, manfaatkan momentum yang bagus ini untuk maju lebih jauh dengan menjaga kualitas karya.

September 30, 2007
Oei Hong Djien