Pupuk Daru Purnomo adalah salah satu diantara seniman-seniman yang sangat dekat denganku dan telah kukenal lama. Aku memiliki lukisan-lukisannya dari periode mahasiswa sampai sekarang. Sejak mahasiswa ia telah menunjukkan kekuatannya dalam melukis wajah. Wajah yang dilukis waktu itu sebagian besar adalah wanita yang sering berperan sebagai ibu. Mungkin karena hubungan yang dekat dengan ibunya sedangkan dengan bapaknya ia jauh. Dalam perjalanannya sebagai pelukis Pupuk tak pernah meninggalkan melukis wajah walaupun ia sangat sukses dengan pemandangan kota beserta gedung-gedungnya yang kuno.
Ia bersama sahabat karibnya Nasirun pernah kuajak keliling Amerika Serikat, Belanda dan Paris mengunjungi museum-museum di sana. Perjalanan ini sangat bermanfaat baginya. Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya ia membuat sketsa-sketsa dari apa saja yang menarik baginya di samping memotret. Dari perjalanan tersebut ia berhasil menghasilkan lukisan-lukisan bermutu tinggi, lebih baik dari sebelumnya, tentang pemandangan kota dengan gedung-gedung kuno dan bersejarah serta interior menarik. Karya-karya ini sempat dipamerkan pada pameran tunggal di Galeri Nasional akhir tahun 2005.
Pupuk belajar banyak dari perjalanan tersebut karena ia membuka diri dan merasa dirinya perlu belajar banyak. Ucapan pertama yang ia keluarkan ketika melihat museum-museum: “Kami belum apa-apa, kami merasa kecil”. Ia suka minta penilaianku tentang karyanya. Ia sangat responsif terhadap kritik yang kuberikan. Suatu kelebihannya ialah Pupuk bisa mengatakan TIDAK. Tidak ikut pameran, tidak ikut lelang, tidak ikut biennale atau event lain kalau ia sedang mempersiapkan suatu pameran tunggal. Ia selalu mengatakan bahwa ia butuh mood untuk melukis dan ini tak dapat dipaksakan. Maka pada waktu ada boom pasar ia tak diburu-buru balai lelang, galeri atau kolektor karena mereka tahu akan sia-sia belaka. Ia tak takabur dengan sukses yang telah ia raih.