Pupuk Daru Purnomo close
 
 
 
10 July - 20 September 2009
DOXA Faces as Metaphor: Pupuk Daru Purnomo
 
NUS MUSEUM
University Cultural Centre
50 Kent Ridge Cresent, National University of Singapore, Singapore 119279
T: (65) 6516 8817
E: musem@nus.edu.sg
www.nus.edu.sg/museum

Pembukaan
Date: Thursday 9 July 2009,
NUS Museum

Pameran di buka oleh:
Mr. Kwa Chong Guan
Chairman National Archives Advisory Committee National Heritage Board
   
     
 

Pupuk Daru Purnomo adalah salah satu diantara seniman-seniman yang sangat dekat denganku dan telah kukenal lama. Aku memiliki lukisan-lukisannya dari periode mahasiswa sampai sekarang. Sejak mahasiswa ia telah menunjukkan kekuatannya dalam melukis wajah. Wajah yang dilukis waktu itu sebagian besar adalah wanita yang sering berperan sebagai ibu. Mungkin karena hubungan yang dekat dengan ibunya sedangkan dengan bapaknya ia jauh. Dalam perjalanannya sebagai pelukis Pupuk tak pernah meninggalkan melukis wajah walaupun ia sangat sukses dengan pemandangan kota beserta gedung-gedungnya yang kuno.

Ia bersama sahabat karibnya Nasirun pernah kuajak keliling Amerika Serikat, Belanda dan Paris mengunjungi museum-museum di sana. Perjalanan ini sangat bermanfaat baginya. Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya ia membuat sketsa-sketsa dari apa saja yang menarik baginya di samping memotret. Dari perjalanan tersebut ia berhasil menghasilkan lukisan-lukisan bermutu tinggi, lebih baik dari sebelumnya, tentang pemandangan kota dengan gedung-gedung kuno dan bersejarah serta interior menarik. Karya-karya ini sempat dipamerkan pada pameran tunggal di Galeri Nasional akhir tahun 2005.

Pupuk belajar banyak dari perjalanan tersebut karena ia membuka diri dan merasa dirinya perlu belajar banyak. Ucapan pertama yang ia keluarkan ketika melihat museum-museum: “Kami belum apa-apa, kami merasa kecil”. Ia suka minta penilaianku tentang karyanya. Ia sangat responsif terhadap kritik yang kuberikan. Suatu kelebihannya ialah Pupuk bisa mengatakan TIDAK. Tidak ikut pameran, tidak ikut lelang, tidak ikut biennale atau event lain kalau ia sedang mempersiapkan suatu pameran tunggal. Ia selalu mengatakan bahwa ia butuh mood untuk melukis dan ini tak dapat dipaksakan. Maka pada waktu ada boom pasar ia tak diburu-buru balai lelang, galeri atau kolektor karena mereka tahu akan sia-sia belaka. Ia tak takabur dengan sukses yang telah ia raih.

 
 
  poster_081219_b.jpg  
 
 

Suatu ketika waktu ia meraih sukses dengan karya-karya pemandangan kotanya, aku mengusulkan kepadanya untuk melukis wajah wanita-wanita di sekitar kita yang nantinya akan kupamerkan di museumku yang baru, yang waktu itu mulai dibangun. Ia sangat tertarik dengan usulku karena ia mulai jenuh dengan melukis bangunan. Sayang gagasan ini tak pernah terwujud. Namun ide ini ia kembangkan ke potret diri tetapi bukan lazimnya potret diri yang kita lihat. Potret-potret diri ini tak ada kemiripan sama sekali dengan wajah Pupuk D.P.. Rupanya yang ia lukis bukan wajahnya namun wajah hanya dipakai sebagai metafor untuk mengekspresikan keadaan jiwanya dalam berbagai macam situasi sepanjang hidupnya. Pupuk dengan kekuatan sapuan kuasnya yang ia miliki berhasil menghasilkan wajah-wajah dengan ekspresi kuat tanpa ada kemiripan dengan wajah Pupuk D.P..

Ia belum puas dengan itu, ia berlanjut bereksplorasi dengan menggunakan tehnik lain. Hasilnya menakjubkan, tercipta wajah realis sempurna yang tega ia “rusak” dengan menyiramkan cairan tertentu sehingga terbentuk lapisan unik menutupi wajah tersebut. Terciptalah wajah yang mengandung misteri dibelakang selaput yang ia buat. Karya-karya yang ia bikin dengan tehnik baru ini semuanya wajah orang ras Afrika dan ia memang bermaksud menggambarkan keadaan Afrika yang penuh malapetaka. Jadi wajah ia pergunakan juga sebagai simbol seperti wajah Hitler sebagai lambang kehancuran yang diakibatkan perang. Lukisan dengan tehnik realis ini sangat berbeda penampilannya dengan karyanya yang ekspresif walaupun mengandung makna yang mirip. Maka ini merupakan kejutan dalam pameran ini.

Lebih dari itu Pupuk mulai tertarik membuat karya tiga dimensi. Patung-patung yang ia buat dengan medium perunggu juga merupakan wajah-wajah yang ia pakai sebagai bahasa ekspresinya. Karena ini pertama kali Pupuk menghasilkan karya tiga dimensi maka hal tersebut merupakan kejutan kedua dalam pameran ini. Semoga Pupuk menghasilkan kejutan-kejutan lain di masa datang.

Sisi kuat lain Pupuk yang karena keterbatasan tempat tak dapat dipamerkan adalah karyanya diatas kertas berupa drawing, cat air dan pastel yang biasanya ia kerjakan sebagai persiapan karya cat minyak. Karya-karya tersebut pernah ia pamerkan di Singapore dalam pameran tunggalnya di Gajah Gallery. Ia juga pernah berpameran tunggal di Galeri Nasional Jakarta untuk lukisan dengan subject matter pemandangan kota beserta gedung-gedungnya dan interior yang ia rekam selama perjalanannya dengan aku dan teman sekelasnya Nasirun, ke Amerika Serikat, Belanda dan Paris. Pameran tersebut sangat berhasil. Namun menurutku pameran dengan tema DOXA – Faces as Metaphor merupakan pamerannya terbaik selama ini karena melukis wajah adalah sisi terkuat Pupuk Daru Purnomo.

-Dr. Oei Hong Djien-