|
Kedua Wanita perupa ini sama sama lulusan Seni
Rupa ITB. Heyi Ma'mun Sejak Mahasiswa hingga kini terus(serius)
melukis. Karya karyanya mudah dikenali; gaya 'abstrak', tema
'alam', dan mengutamakan 'warna' cemerlang dengan selalu ada
warna putih. Ia bertahan teguh menjalani perangai kekaryaannya,
seperti tidak terlampau banyak perubahan, tetapi sesungguhnya
semakin tegas ia menapaki kedalaman langkah langkahnya. Iriantine
Karnaya sampai saat ini (serius) menggubah patung. Ia mengolah
kayu dan logam. Bentuk- bentuk garapannya tak terlampau sulit
untuk dikenali; gaya 'realistik', tema 'objek figur', dan
mengedepankan unsur 'warna alamiah' bahan. Iriantine selalu
berupaya hadir dan tampil dipercaturan seni rupa, belakangan
semakin giat untuk memasuki medan khalayak. Kita bisa menghargai
sikap serius dan tetap bertahan di jalur mereka masing masing.
Masalahnya kini, seberapa banyakah wanita lulusan pendidikan
tinggi seni rupa di Indonesia selama tiga puluh tahun terakhir,
yang sungguh sungguh memilih hidup menjadi perupa? Mungkin
jumlahnya cukup sedikit. Di antara yang sedikit itu, nama
Heyi Ma'mun dan Iriantine Karnaya boleh disebut sebagai dua
sosok yang terus tekun menjadi perupa. Bagi dunia seni lukis,
tentunya kebertahanan Heyi Ma'mun tidak aneh. Sebab, dalam
dua dekade terakhir seni lukis memang dikerumuni banyak penekun
dan peminat. Hanya saja, ditengah perguliran wacana seni rupa
mutakhir, gaya abstrak konon sulit dipahami. Berbeda dengan
seni patung kontemporer yang ditekuni Iriantine Karnaya, sampai
hari ini masih sepi penekun dan peminat. Rupanya pameran ini
memang sengaja disodorkan untuk mengajak publik untuk memahami
lukisan abstrak dan patung kontemporer.
Pada dasarnya karya-karya kedua wanita perupa ini memang memiliki
karakter berbeda. Bukan hanya berbeda media, tetapi juga berbeda
cara penuturan. Kendati keduanya berangkat dari startline
yang sama: pengalaman menangkap segala fenomena alam. Heyi
Ma'mun menanggapi alam sebagai bentangan dan bangunan - bangunan
bentuk yg ditafsir melalui cerapan pribadi. Ia mengutarakan
kembali kisah tentang alam sebagai struktur komposisi bahasa
estetika, dengan berbagai imaji (citra) di seputar gerak dan
nuansa musikal untuk membangun makna baru. Sedangkan Iriantine
memilih objek objek alam untuk di representasikan dalam bangunan
makna-makna dan bahasa estetika. Beberapa karyanya lebih terasa
mempertimbangkan proses abstraksi dan pendistorsian (pemiuhan)
ketimbang citra realistik. Sehingga bentuk tidak lagi merujuk
kepada figure figure yg gamblang atau memberi makna verbal.
|