Ilen Gallery
Titan building 2nd floor
Jl. Slamet Riadi no. 7 Jakarta 13150
Telephone: 62-21 8580515 (5 lines)
Fax: 62-21 8581561
Email: Ilen@ktitan.com

Acara pembukaan akan diadakan pada tanggal 14 Juni 2002, pukul 19.00 WIB.
Pembukaan pameran akan dilakukan oleh Deborah C. Iskandar

   
     
 
Pameran karya dua wanita perupa, Heyi Ma'mun dan Iriantine Karnaya ini bertajuk Penghargaan (terhadap) lukisan abstrak dan patung kontemporer. Selintas, cukup sederhana, tak begitu banyak hal yang bisa kita bicarakan. Lalu ada masalah apa?
 
 
 
 
 
 
 

Kedua Wanita perupa ini sama sama lulusan Seni Rupa ITB. Heyi Ma'mun Sejak Mahasiswa hingga kini terus(serius) melukis. Karya karyanya mudah dikenali; gaya 'abstrak', tema 'alam', dan mengutamakan 'warna' cemerlang dengan selalu ada warna putih. Ia bertahan teguh menjalani perangai kekaryaannya, seperti tidak terlampau banyak perubahan, tetapi sesungguhnya semakin tegas ia menapaki kedalaman langkah langkahnya. Iriantine Karnaya sampai saat ini (serius) menggubah patung. Ia mengolah kayu dan logam. Bentuk- bentuk garapannya tak terlampau sulit untuk dikenali; gaya 'realistik', tema 'objek figur', dan mengedepankan unsur 'warna alamiah' bahan. Iriantine selalu berupaya hadir dan tampil dipercaturan seni rupa, belakangan semakin giat untuk memasuki medan khalayak. Kita bisa menghargai sikap serius dan tetap bertahan di jalur mereka masing masing.


Masalahnya kini, seberapa banyakah wanita lulusan pendidikan tinggi seni rupa di Indonesia selama tiga puluh tahun terakhir, yang sungguh sungguh memilih hidup menjadi perupa? Mungkin jumlahnya cukup sedikit. Di antara yang sedikit itu, nama Heyi Ma'mun dan Iriantine Karnaya boleh disebut sebagai dua sosok yang terus tekun menjadi perupa. Bagi dunia seni lukis, tentunya kebertahanan Heyi Ma'mun tidak aneh. Sebab, dalam dua dekade terakhir seni lukis memang dikerumuni banyak penekun dan peminat. Hanya saja, ditengah perguliran wacana seni rupa mutakhir, gaya abstrak konon sulit dipahami. Berbeda dengan seni patung kontemporer yang ditekuni Iriantine Karnaya, sampai hari ini masih sepi penekun dan peminat. Rupanya pameran ini memang sengaja disodorkan untuk mengajak publik untuk memahami lukisan abstrak dan patung kontemporer.


Pada dasarnya karya-karya kedua wanita perupa ini memang memiliki karakter berbeda. Bukan hanya berbeda media, tetapi juga berbeda cara penuturan. Kendati keduanya berangkat dari startline yang sama: pengalaman menangkap segala fenomena alam. Heyi Ma'mun menanggapi alam sebagai bentangan dan bangunan - bangunan bentuk yg ditafsir melalui cerapan pribadi. Ia mengutarakan kembali kisah tentang alam sebagai struktur komposisi bahasa estetika, dengan berbagai imaji (citra) di seputar gerak dan nuansa musikal untuk membangun makna baru. Sedangkan Iriantine memilih objek objek alam untuk di representasikan dalam bangunan makna-makna dan bahasa estetika. Beberapa karyanya lebih terasa mempertimbangkan proses abstraksi dan pendistorsian (pemiuhan) ketimbang citra realistik. Sehingga bentuk tidak lagi merujuk kepada figure figure yg gamblang atau memberi makna verbal.

 

 

  H Mammannoor