Pupuk Daru Purnomo       Data Diri Tutup
 
 
 
 
 
Galeri Nasional Indonesia
Jl. Medan Merdeka Timur 14
Jakarta 10110
pameran dibuka untuk umum
Tanggal : 20 November 2005
Pukul : 10.00-18.00 WIB

Peluncuran Buku dan Pameran
dibuka oleh:
Dr. Oei Hong Djien
   
     
 
Pupuk D.P., seorang seniman low profile yang kurang mendapat tanggapan dari para penulis dan kritikus seni akhirnya berhasil menembus Galeri nasional Indonesia dan sekaligus meluncurkan bukunya yang pertama ini. Tanggapan yang saya maksud adalah ulasan baik berupa tulisan maupun lisan dari para kritikus seni tentang Pupuk, jarang kita jumpai. Padahal ia layak ditempatkan di lapisan atas walaupun usianya baru 41 tahun, dan menarik untuk diulas. Apakah karena subject matter nya seperti wanita, ibu dan anak, bangunan-bangunan tua di kota , alam-benda dianggap kurang canggih sehingga jarang dibicarakan? Apakah gayanya yang masih mengandalkan brushstroke dan dikategorikan sebagai gaya ekpresionism atau impresionism dianggap sudah lewat zaman? Ia juga masih memakai media konvensional seperti cat minyak diatas kanvas atau cat air dan pastel diatas kertas; mixed media yang banyak dipakai pelukis masa kinipun ia tidak pernah pakai. Apakah faktor-faktor ini semua menyebabkan ia tidak dianggap sebagai pelukis kontemporer?
 
 
   
 
 

Kontemporer atau tidak kontemporer bukan tergantung dari unsur-unsur eksternal non esensial tadi tetapi lebih dari sikap, pendekatan dan pemikiran seniman terhadap apa yang ia garap. Bila kita mengenal Pupuk dan caranya mendekati, mempelajari dan menghayati subject matter yang akan ia garap maka prosesnya tidak sesederhana yang kita anggap. Karena ia mendalami betul apa yang akan ia lukis maka lukisannya selalu mempunyai bobot. Ia bukan tipe pelukis yang bisa melukis setiap saat atau setiap hari. Ia butuh suasana hati yang kondusif dan perenungan. Maka karyanya tidak repetitif atau stereotip. Ia tidak mampu untuk ngebut. Paling banyak ia bisa menyelesaikan 2 sampai 3 lukisan cat minyak diatas kanvas sebulan. Itupun tidak setiap bulan ia dapat melaksanakannya. Pupuk dapat merasakan dan mengakui bila karyanya gagal atau kurang berhasil dan sebaliknya. Biasanya bila ia merasa berhasil, memang sulit untuk menemukan cacat dalam karyanya.

Lukisannya berhubungan dengan keadaan sehari-hari yang dialami manusia hidup, hal-hal biasa yang dapat kita lihat dan rasakan. Bukan yang supranatural atau yang sulit untuk dimengerti. Maka karyanya relevan untuk segala zaman termasuk zaman kontemporer ini. Anggapan yang mengatakan bahwa lukisan gaya Pupuk sudah lewat zaman adalah keliru. Pupuk justru telah membuktikan diri sebagai pelukis yang mempunyai kepribadian teguh dan tidak ikut-ikutan arus. Walaupun demikian ia sangat terbuka untuk masukkan dan menyambut kritikan dengan sikap yang sangat positif. Ia tidak segan untuk merubah bahkan membongkar karyanya bila setelah mendapat kritik ia menyadari bahwa karyanya masih bisa dioptimalkan.

Kerendahan hati Pupuk terlihat ketika ia dan Nasirun saya ajak melancong ke Amerika Serikat dan Eropa mengunjungi museum-museum terkenal seperti Norton Simon Museum, LACMA, dan Getty Museum di Los Angeles, Chicago Art Institute di Chicago, Metropolitan Museum, MOMA, Whitney Museum di New York, Louvre, Musée d'Orsay, Centre George Pompidou, Musée Picasso, Musée Rodin di Paris, Rijksmuseum, Stedelijk Museum, Van Gogh Museum di Amsterdam, Rijksmuseum Kröller- Müller di Otterloo, dll. Ia merasa dirinya kecil, belum berarti apa-apa dan masih harus belajar banyak. Keinginan belajar terus membuatnya maju terus. Maka perkembangan yang ia capai setelah perjalanan tersebut sangat nyata dan dapat disaksikan dalam pameran tunggalnya kali ini di Galeri Nasional Indonesia .

Dalam pameran yang berjudul sama dengan buku ini, Refleksi: Perjalanan Kekaryaan Pupuk D.P. kita dapat melihat perkembangan Pupuk D.P. selama sepuluh tahun. Bisa kita simak kurvanya yang menanjak terus sepertinya tidak ada fase menurun. Padahal fase macet atau menurun pada perkembangan seorang seniman adalah lazim. Disitu bisa pula dilihat segala aspek Pupuk D.P.. Tema-tema yang digarap walaupun nyata namun penuh imajinasi, tidak rumit tetapi kaya, variatif dan tidak dangkal. Ini akibat dari keseriusan bekerja. Ia tidak pernah asal-asalan atau memandang enteng dalam berkarya. Ia mempunyai tanggung jawab yang besar terhadap karyanya dan berkaryanya. Ia tidak mengandalkan bakat atau keberuntungan namun selalu tekun dalam mempelajari sesuatu. Setiap karya ia persiapkan dengan sungguh-sungguh. Sebelum membuat karya utama cat minyaknya diatas kanvas, ia mempersiapkan diri dengan membuat sketsa, drawing dan seringkali cat air atau pastel diatas kertas. Karya- karya persiapan ini pada hakekatnya sudah merupakan karya seni utuh yang bermutu.

Kualitas karya seorang seniman sangat jarang bisa merata. Mutu karya Pupuk D.P. umumnya baik bahkan akhir-akhir ini menjadi sangat baik. Ia memang enggan melepas karya yang rendah mutunya. Bila ia merasa sebuah karya tidak berhasil, ia memperbaikinya bila mungkin. Bila tidak, ia hapus seluruhnya. Dahulu ia mendapat kesulitan untuk membuat karya dengan ukuran besar. Sekarang ia sudah berhasil mengatasinya. Lihatlah karya barunya yang dibuat tahun 2005 ini dan berukuran 1,80 x 2,90m, terdiri dari dua panel, berjudul A Stop at Wallstreet . Bila kedua panel tersebut dipisah, masing-masing lukisan tidak banyak berbeda mutu dengan lukisan Pupuk pada umumnya. Setelah disatukan terjadi sinergi yang memberikan nilai tambah yang sangat berarti sehingga karya ini menurut saya termasuk salah satu karya terbaiknya. Melihat keseriusannya, saya yakin perjalanan kekaryaan Pupuk D.P. akan semakin cerah.

  Magelang, September 2005
  Dr. Oei Hong Djien
Pecinta Seni